
Alya, anak gadisku yang masih berumur 2 tahun, saat sahur pasti ikut bangun, meski matanya masih sipit terkantuk-kantuk. Ketika ditanya apakah besok ikut berpuasa, dijawabnya dengan kenes, "iya besok puasa yangyuk..."
Sesaat aku bingung, tidak faham maksud celoteh si kecil. Bundanya menjelaskan, puasa "yangyuk" artinya puasa setengah periuk atau setengah hari saja. Aku jadi tersenyum, bangga dengan si kecil yang sudah mulai melatih dirinya berpuasa. Bekal yang baik jika kelak ia dewasa, tidak berat lagi lantaran sudah terbiasa.
Puasa "yangyuk" atau setengah periuk atau puasa setengah hari, menjadi kebiasaan pembelajaran bagi anak-anak keluarga muslim Indonesia modern. Berbeda dengan pembelajaran zaman kita kecil dahulu, tidak mengenal puasa setengah hari. Yang namanya puasa, harus penuh satu hari, dari imsyak sebelum subuh sampai buka waktu maghrib.
Alya dan anak-anak kecil muslim Indonesia lainnya, cukup familiar dengan toleransi orang tua mereka dalam pembelajaran berpuasa di bulan suci Ramadhan. Mereka cukup senang dan perlahan mulai memahami makna menahan diri, dimulai dari menahan haus dan lapar saat berpuasa, walaupun hanya puasa "yangyuk"...
Apapun istilahnya untuk "latihan berpuasa" bagi anak-anak, yang terpenting adalah proses pembelajarannya. Hasil akhirnya nanti dapat dirasakan sang anak, manakala mereka telah tumbuh dewasa, dan harus berpuasa penuh. Kemudian juga mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak mereka.
Sesungguhnya latihan berpuasa bukan hanya untuk pembiasaan saja, namun lebih kepada kestabilan emosi dan psikologis, bahkan kesehatan pencernaan. Berpuasa memang dapat mendatangkan banyak manfaat, bisa jadi dimulai dari puasa yangyuk...
Salam PALM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar