Senin, 07 September 2009

ORGANIK vs ANORGANIK

Trend pertanian negara agraris dewasa kini, seperti Indonesia, seiring target yang dikampanyekan instansi terkait, adalah "Pertanian Organik Indonesia 2010". Tentu saja, kendala terbesar dan terberat adalah merubah sikap petani untuk beralih dari ketergantungan terhadap saprodi "Anorganik" menjadi lebih berdaya dengan sistem budidaya pertanian "Organik". Sehingga, semangat produksi pertanian menjadi lebih ramah lingkungan, sama saja dengan membenturkan antara "Organik versus Anorganik".

Penggunaan bahan-bahan kimiawi pabrikan (anorganik), seperti pupuk dan pestisida dalam usaha budidaya pertanian, disadari kini akan berdampak terhadap efek residu (sisa) senyawa berbahaya yang tertinggal di tanah, bahkan di produksi tanaman. Sementara, manusia semakin menyadari bahwa, kesehatan tubuhnya sangat dipengaruhi oleh salah satunya pola makan.

Pola makan di zaman modern sekarang ini, masyarakat lebih cenderung mengkonsumsi makanan siap saji (fastfood), atau makanan berbahan baku dari produk awetan. Produk awetan dari komoditi pertanian, dapat terlihat dari penampilan fisik yang super unggul tanpa cacat.

Padahal, justru komoditi pertanian yang terlihat cacat, menandakan bahwa produk pertanian tersebut dimakan juga oleh makhluk hidup lain, yang artinya aman juga dikonsumsi manusia. Tinggal lagi, produk pertanian bebas bahan kimia tersebut disortir dan di"grading" sebelum masuk ke pasar atau supermarket.

Namun disadari betul bahwa, untuk level petani yang masih tradisional dan berskala usaha kecil (usahatani), penggunaan pola pertanian organik di satu sisi belum akrab dan "tidak lazim" seperti yang sudah mereka kerjakan turun-temurun. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida sudah "merakyat".

Padahal, jika petani mau beralih ke pola pertanian organik, justru akan lebih dapat diefisienkan biaya dari pembelian saprodi anorganik, meskipun dibutuhkan tenaga dan perhatian ekstra. Tenaga dan perhatian dimaksud adalah dari sisi pemeliharaan tanaman yang lebih cenderung manual dan berbasis limbah daur ulang bahan organik ramah lingkungan.

Di sisi yang lain, perusahaan pupuk dan pestisida yang sudah besar dan mendapatkan keuntungan berlipat dari produksi mereka, tentu tidak akan tinggal diam. Akan banyak upaya yang dilakukan untuk meng"counter" kampanye "pertanian organik".

Petani akan jadi penonton saja, melihat pertarungan besar antara "negara" melawan "swasta", atau "peneliti" berhadapan dengan "pengusaha", diantara pilhan "organik" versus "anorganik". Pemenangnya akan meraih simpati rakyat, walaupun belum tentu juga dapat merubah pola usahatani.

Jawaban akhir sebenarnya ada pada kebanyakan kita, para konsumen yang sebagian besar (bahkan utama) konsumsi kita dari bahan baku komoditi pertanian. Pilihan pola makan sehat berimbas terhadap hidup sehat, tentu akan lebih "menjanjikan" daripada pola makan salah kaprah yang beresiko tidak sehat.

Bukankah kesehatan lebih mahal, daripada sedikit tambahan uang yang dikeluarkan untuk membeli atau menikmati sajian organik..? Dan akan lebih mahal lagi jika pola makan organik berdampak positif dengan pola hidup sehat, terbebas dari efek kimiawi bahan anorganik yang terbukti meracuni tubuh.

Jadi, pilih "Organik" atau "Anorganik"...? Pilihannya hanya ada pada kita konsumen, bukan petani atau pengusaha sebagai produsen, bukan juga pemerintah sebagai pembuat program kebijakan pertanian organik 2010...

Salam PALM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar