Minggu, 06 September 2009

BUBAR (BUKA BARENG)

BUBAR atau buka bareng, ini adalah istilah "gaul" anak zaman sekarang untuk menyebutkan suatu kegiatan buka puasa bersama atau juga disingkat "buber". Buka bareng atau berbuka puasa bersama, biasanya dilakukan oleh suatu komunitas yang terbentuk karena ikatan darah, kekeluargaan, adat, pendidikan, profesi atau rekan sejawat, atau "just friends"...

Yang penting, dimana ada "bubar", pasti disitu dijumpai banyak kesamaan dari keberagaman karakter "member" yang hadir. Terlihat dari tingkah, gaya dan bahan omongan yang senada. Intinya memang "bubar" dimaksudkan untuk mempererat silaturrahmi di bulan suci Ramadhan.

Namun diantara hal positif dari kegiatan buka bersama, menyimpan fenomena ironis pada sisi lain. Sementara menjelang maghrib beberapa komunitas sudah mendatangi tempat berbuka, entah rumah salah satu anggota, atau restoran, atau cafe... Sementara itu masih banyak gelandangan, pengemis, fakir, miskin dan anak jalanan yang masih berada di jalan, mengais rezeki untuk makan...

Mengapa kegiatan "bubar" masih banyak yang belum menyentuh, merangkul, bahkan mengajak kaum dhuafa untuk turut bersama berbuka puasa. Mereka yang tidak hanya di bulan puasa saja berpuasa, tapi sepanjang tahunnya mereka telah terbiasa berpuasa, alias tidak makan seharian karena tidak mendapatkan rezeki sedikitpun.

Persis di seberang kantorku, ada cafe yang tiap harinya, menjelang maghrib selama bulan suci Ramadhan selalu ramai, penuh sesak oleh pengunjung yang akan berbuka puasa. Banyak mobil berderet parkir di depan cafe muslim tersebut. Sementara itu, pemandangan terbalik terlihat di persis di depan kantorku.

Tukang parkir, pedagang asongan dan anak jalanan melihat iri ke arah cafe yang ramai, oleh orang-orang berduit, oleh irama musik country... Sesaat mereka terlihat berbuka puasa dengan air putih dan gorengan murah meriah dari gerobak kaki lima yang "ngetem" sesaat, sebelum diusir aparat...

Sering juga, kami berbuka puasa bersama staf kantor yang masih "standby", dengan menu gorengan dan es teh manis. Sekedar membasahi kerongkongan yang kering dan menganjal perut setelah seharian berpuasa. Sesekali, kami bagi menu sederhana buka puasa kami dengan anak jalanan dan tukang parkir...

Aaahh... Ternyata "bubar" tidak hanya milik orang berduit, kamipun dapat juga melakukannya, meskipun tidak "semewah" dan "seheboh" mereka di cafe seberang kantor. Ternyata kebersamaan itu indah, jika kita bersama mereka yang benar-benar berpuasa karena iman dan takwa, bukan karena "tidak enak" dengan kolega...

Sejurus kemudian, pedagang gerobak gorengan, asongan dan anak jalanan melenggang ke dunia mereka kembali. Bekerja mengais rezeki, bukan untuk sahur atau berbuka puasa besok. Tapi memang untuk menganjal perut, untuk tetap bertahap hidup di dunia yang keras dan penuh "orang munafik"...

Selamat berjuang sahabat, semoga dapat terus bertahan hidup, meskipun harus berpuasa sepanjang tahun...

Salam PALM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar